Jadi waktu itu lagi scrolling YouTube, nemu konten hauling manga dari YouTuber luar yang lagi unboxing koleksinya.
Di antara tumpukan manga yang dia beli, ada satu yang langsung menarik perhatian — The Fable, versi omnibus yang dua volume dijadiin satu buku tebal, atau yang biasa disebut bind up sama penerbit Indonesia.
Dia nyebut manga ini dengan antusias banget, bilang ini salah satu koleksi yang wajib dia punya karena kualitas ceritanya yang luar biasa. Nah, dari situlah rasa penasaran mulai muncul.
Buat yang belum tau, The Fable itu manga seinen — artinya target pembacanya laki-laki dewasa.
Karya Katsuhisa Minami ini ngikutin seorang pembunuh bayaran legendaris yang dikenal cuma sebagai "Fable," sosok yang konon bisa membunuh siapa saja dalam hitungan detik.
Premisnya sederhana : bosnya nyuruh dia istirahat selama setahun penuh, hidup normal sebagai orang biasa tanpa boleh membunuh siapapun.
Karena penasaran, langsung cari tahu lebih lanjut dan ternyata nggak cuma manga — sudah ada adaptasi live action dan anime-nya juga.
Tanpa pikir panjang, langsung ditonton keduanya, dan hasilnya? Bagus banget. Ini beneran bagus, bahkan berani kubilang live action-nya bisa sejajar atau mungkin lebih berhasil dari versi aslinya dalam beberapa aspek.
Buat yang sering nonton adaptasi live action dari manga atau anime, pasti udah nggak asing sama fenomena cringe yang sering muncul — itu udah jadi makanan sehari-hari penonton adaptasi live action Jepang. Tapi The Fable beda.
Live action-nya berhasil menangkap esensi cerita dengan sangat baik, bahkan ada momen-momen komedi situasional yang justru terasa lebih hidup ketika dibawakan oleh aktor nyata.
Yang bikin The Fable spesial adalah cara story telling-nya. Dunia bawah tanah — yakuza, pembunuh bayaran, segala kegelapannya — digambarkan dengan detail dan nuansa yang terasa autentik.
Komedi dan tegangan hadir bersamaan tanpa terasa dipaksakan, dan dunia gelapnya juga nggak dibuat lebay.