Sebelum bicara soal Maomao — sang protagonis — mari bicara soal dunianya dulu.
Setting-nya terinspirasi dari istana dinasti Tiongkok pada era kekaisaran, dengan hirarki sosial yang ketat, sistem selir (court ladies dan consorts), birokrasi istana, dan politik di balik setiap mangkuk teh [1].
Ini bukan fantasi yang meminjam estetika Asia hanya untuk terlihat eksotis — detail-detailnya terasa diteliti dengan serius. Mulai dari cara ritual makan di istana, struktur jabatan kasim, hingga bagaimana seorang perempuan dari kelas bawah bisa masuk ke dalam tembok dalam istana dengan cara yang tidak ia pilih sendiri.
Yang membuat setting ini menawan bukan kemewahan visualnya (meski animasinya memang indah), melainkan bagaimana dunia itu memiliki logikanya sendiri yang konsisten. Kekuasaan di sini tidak soal siapa yang paling kuat secara fisik — melainkan siapa yang tahu lebih banyak, siapa yang memiliki informasi, dan siapa yang bisa membaca situasi lebih cepat dari yang lain
Dan di sinilah Maomao masuk.
The Apothecary Diaries melakukan sesuatu yang banyak serial gagal lakukan: ia menunjukkan bahwa punya kepentingan diri sendiri tidak otomatis membuatmu jahat — dan altruisme yang dipaksakan tidak otomatis membuatmu baik.
Maomao berbohong kalau perlu. Ia memanipulasi situasi untuk keuntungannya. Ia dengan dingin menganalisis apakah membantu seseorang sepadan dengan risikonya. Ia tidak selalu berempati pada orang yang menderita — kadang ia hanya mengamati, seperti seorang ilmuwan yang mencatat data [2]
Ada formula yang sering digunakan untuk membuat protagonis perempuan terasa "kuat": beri dia trauma masa lalu, buat dia tidak bisa percaya orang, tapi di dalam hati dia sebenarnya lembut dan butuh diselamatkan.
Maomao tidak mengikuti formula itu — atau setidaknya, tidak dengan cara yang klise.
Ya, latar belakangnya berat. Tumbuh di distrik merah tidak pernah mudah, dan ada lapisan-lapisan dalam hidupnya yang belum sepenuhnya diungkap bahkan dalam versi anime-nya. Tapi latar belakang itu tidak ia gunakan sebagai justifikasi untuk semua tindakannya. [3]
Pertama, ia punya agency yang nyata. Keputusan-keputusan penting dalam cerita lahir dari pilihannya, bukan dari nasib atau kehendak orang lain. Bahkan ketika ia terseret ke situasi yang tidak ia pilih (seperti menjadi court lady di istana dalam), ia menemukan cara untuk bergerak di dalam situasi itu dengan cara yang ia tentukan sendiri.
Kedua, kecerdasannya bukan gimmick. Terlalu sering kita melihat protagonis "cerdas" yang kecerdasannya hanya ditampilkan lewat dialog orang lain memuji mereka. Maomao cerdas dalam cara yang bisa kita ikuti — kita bisa melihat proses berpikirnya, kita bisa ikut menebak, kita kadang sampai pada kesimpulan yang sama dengannya sebelum ia mengucapkannya [4].
Ketiga — dan ini mungkin yang paling jarang — ia tidak perlu divalidasi untuk tahu dirinya berharga. Jinshi, si karakter laki-laki utama yang bisa dibaca sebagai love interest, kagum padanya. Tapi ketertarikan Jinshi tidak mengubah cara Maomao memandang dirinya sendiri. Ia tidak tiba-tiba menjadi lebih percaya diri karena dilirik pria tampan. Kepercayaan ketidakpercayaan dirinya datang dari tempat yang jauh lebih internal [5]
Satu lagi elemen yang membuat serial ini beda: struktur episode-nya yang sering menggunakan format mystery-of-the-week tidak pernah terasa repetitif, karena setiap misteri selalu berkaitan dengan dinamika sosial dan politik dunianya.
Ketika ada selir yang keracunan, ini bukan hanya tentang menemukan siapa pelakunya — ini tentang siapa yang punya kepentingan untuk menyingkirkan siapa, bagaimana kekuasaan bergerak di antara perempuan-perempuan yang terjebak dalam sistem yang sama. Ketika ada wabah misterius, ini bukan hanya tentang penyakitnya — ini tentang bagaimana informasi ditutup-tutupi dan mengapa.
Maomao adalah alat yang sempurna untuk menjelajahi semua ini karena posisinya yang ambigu dalam hirarki membuatnya bisa melihat dari banyak sudut. Ia bukan ningrat yang naif baru masuk istana. Ia bukan rakyat jelata yang polos. Ia seseorang yang tahu betul bagaimana dunia bekerja, dan justru karena itu ia bisa lebih tajam membaca apa yang tersembunyi di balik permukaan [6]
¹ Setting istana dalam serial ini terinspirasi dari sistem istana dinasti Tang dan Ming di Tiongkok, khususnya struktur inner palace (hougong) di mana selir dan court ladies hidup dalam sistem hirarki yang sangat ketat dan terpisah dari dunia luar.
² Ada beberapa fan yang membaca Maomao sebagai karakter yang memiliki sifat-sifat neurodivergent — terutama cara ia memproses empati secara kognitif (memahami perasaan orang lain lewat analisis) daripada afektif (merasakannya secara langsung). Ini tidak pernah dinyatakan secara eksplisit dalam teks, tapi cukup banyak diskusi di komunitas yang membahasnya.
³ Latar belakang Maomao di Rokushoukan (rumah hiburan tempat ia dibesarkan) adalah elemen yang penting tapi sering disalahpahami. Ia besar di lingkungan itu, mengenalnya dengan baik, tapi tidak memiliki karir di sana — dan pengetahuannya tentang dunia itu justru menjadi sumber kecerdasannya dalam membaca manusia.
⁴ Dalam banyak mystery anime, kita tidak pernah bisa memecahkan misteri sebelum protagonis karena informasinya sengaja disembunyikan dari penonton. Apothecary Diaries cukup jujur dalam menyajikan petunjuk sehingga penonton yang jeli bisa sampai pada kesimpulan bersamaan dengan Maomao.
⁵ Dinamika Maomao–Jinshi sengaja menggunakan slow burn dan ambiguitas. Jinshi tertarik padanya, Maomao sadar tapi tidak sepenuhnya percaya motifnya. Ini adalah subversi menarik dari trope "gadis biasa yang tiba-tiba diperhatikan orang paling tampan di ruangan."
⁶ Posisi sosial yang ambigu sebagai alat naratif juga ditemukan dalam karakter seperti Arya Stark (*Game of Thrones*) atau Yona (*Akatsuki no Yona*) — karakter perempuan yang justru bisa melihat lebih banyak karena mereka berada di celah antara kelas dan peran sosial yang berbeda.