Takut

10 April, 2026 · 2 menit

Bagi manusia purba, dibuang dari kelompok bukan sekadar memalukan — itu sama aja kaya hukuman mati.

Nggak ada yang bisa berburu sendiri di sabana. Nggak ada yang bisa bertahan dari predator di malam hari.

Otak kita mewarisi kecemasan itu dengan sangat setia, jauh lebih setia dari yang kita inginkan.

Masalahnya, kita tidak lagi hidup dalam suku beranggotakan lima puluh orang — tapi sistem alarm di kepala kita belum tahu itu dan kita masih tetap takut setengah mati dianggap aneh dan di kucilkan / dibuang dari kawanan sosial.

Setiap kali kita memilih baju dengan cemas, menelan kata-kata yang ingin diucapkan, atau mengubah pendapat di tengah percakapan agar terdengar lebih diterima — kita sedang bernegosiasi dengan kesadaran akan keterbatasan kita — yang tak bisa kita terima: bahwa kita takut terasingkan.