Ketidakadilan yang tak tertanggungkan, kematian yang tak terelakkan, dan penderitaan yang tampak sia-sia.
Dari ketiganya, kupikir lahirlah konsep surga โ konsep kosmologi keagamaan yang menggambarkan suatu tempat supernatural yang penuh kedamaian, kebahagiaan abadi, dan kenikmatan tertinggi di akhirat.
Dianggap sebagai ganjaran bagi jiwa manusia yang beriman dan beramal saleh atau pun mereka yang sabar akan penderitaan nya di dunia
Narasi surga digunakan untuk meninabobokan masyarakat agar tidak memberontak terhadap tirani atau struktur sosial yang tidak adil.
Penderitaan fisik dan ekonomi di dunia dianggap sebagai ujian yang akan dibalas dengan kemuliaan di surga.
Kemiskinan menjadi "keberkahan," kerendahan hati menjadi "kemuliaan," dan penderitaan duniawi menjadi tiket untuk kehidupan berikutnya.
Kelas penguasa, sadar atau tidak, diuntungkan ketika rakyat lebih memilih berdoa daripada bertindak.
Energi yang seharusnya mendorong perubahan โ kemarahan yang sah, kehendak untuk melawan โ tersedot ke dalam kesabaran pasif dan penantian ilahi.
Surga sebagai penghiburan bagi yang berduka adalah satu hal.
Surga sebagai alasan menerima eksploitasi tanpa perlawanan adalah hal lain sepenuhnya.