Baru saja kemarin aku menuntaskan Solanin, manga karya Inio Asano yang sudah cukup lama masuk daftar bacaanku dan kebetulan aku belinya pas momen tanggal kembar 5.5, lumayan dapat diskon sampai 40% langsung dari penerbitnya.
Yang aku beli versi special edition-nya โ meski sebetulnya hanya dua volume yang dijadikan satu dengan tambahan epilog dan afterword dari penulisnya.
Tidak ada yang terlalu mewah, tapi cukup terasa seperti edisi yang layak dimiliki secara fisik.
Soal isinya, aku tidak menyesal sama sekali, manga coming-of-age yang dikerjakan dengan sangat baik.
Dramanya terasa proporsional, dan dialog antar karakternya terasa seperti percakapan yang benar-benar bisa terjadi antara orang-orang yang sedang bingung soal arah hidup mereka di usia dua puluhan.
Tema quarter life crisis yang diangkat jadi inti dari perjalanan karakter.
Meiko dan teman-temannya digambarkan sedang bergumul dengan pertanyaan yang tidak ada jawaban mudahnya โ haruskah terus bermimpi atau mulai berdamai dengan kenyataan? Perkembangan mereka terasa bertahap dan jujur, tanpa ada perubahan besar yang datang tiba-tiba tanpa sebab.
Yang paling aku apresiasi adalah bagaimana Asano menyelesaikan ceritanya.
Closure yang diberikan terasa tulus โ bukan karena semua hal menjadi baik-baik saja, tapi karena karakternya tampak sudah menemukan cara untuk melanjutkan hidup.
Itu jauh lebih memuaskan daripada akhir yang terlalu rapi.