Solanin

9 Mai, 2026 · 2-3 menit

Baru aja selesai baca Solanin, manga Inio Asano yang sudah cukup lama masuk daftar bacaanku dan kebetulan aku belinya pas momen 5.5, lumayan dapat diskon sampai 40% langsung dari penerbitnya.

Yang aku beli ini versi special edition-nya — meski dibilang spesial sebenernya cuma dua volume yang dijadiin satu sama tambahan epilog dan afterword dari penulisnya.

Ada beberapa halaman berwarna dengan art paper jadi cukup kerasa kaya edisi yang layak dimiliki secara fisik.

Soal isinya, aku nggak menyesal sama sekali, manga coming-of-age yang dikerjakan dengan sangat baik.

Dramanya kerasa proporsional, dan dialog antar karakternya kerasa seperti percakapan yang benar-benar bisa terjadi antara orang-orang yang lagi bingung soal arah hidup mereka di usia dua puluhan.

Tema quarter life crisis yang diangkat jadi inti dari perjalanan karakter bener bener di buat secara bagus.

Meiko sama temannya digambarin lagi bergumul sama pertanyaan yang nggak ada jawaban mudahnya — haruskah terus bermimpi atau mulai berdamai dengan kenyataan?

Perkembangan mereka kerasa bertahap dan jujur, tanpa ada perubahan besar yang datang tiba-tiba tanpa sebab.

Yang paling aku apresiasi adalah bagaimana Asano menyelesaikan ceritanya.

Closure yang dikasih kerasa tulus karena karakternya tampak sudah menemukan cara untuk melanjutkan hidup bukan karena semua hal menjadi baik-baik saja.

jauh lebih memuaskan daripada akhir yang terlalu rapi.