Aku beli Ruri Dragon dengan asumsi yang cukup malas — judulnya ada kata "dragon", karakter utamanya cewek sekolahan, dan sekilas rasanya seperti Kobayashi's Dragon Maid tapi di setting yang lebih biasa.
Ternyata setelah dua volume, manga ini pergi ke arah yang beda.
Premisnya sederhana: Ruri bangun pagi dan tumbuh tanduk. Ketahuan bahwa ayah biologisnya adalah naga.
Dari sana cerita hanya mengikuti keseharian Ruri yang berusaha menjalani hidupnya seperti biasa.
Yang terasa familiar dari premis itu, semacam Metamorfosis dari Kafka, tapi tanpa beban eksistensial yang berat.
Tidak ada adegan besar soal penerimaan diri, tidak ada momen katarsis yang dibuat-buat.
Manga ini lebih tertarik pada hal kecil: bagaimana Ruri duduk di kelas, bagaimana ia berbicara dengan teman-temannya, bagaimana rutinitas tetap berjalan meski ada sesuatu yang sudah tidak sama lagi.
Di situlah pertanyaan reflektifnya muncul secara diam-diam — kalau kamu tiba-tiba bukan manusia seutuhnya, apakah cara kamu menjalani hari masih bisa tetap sama?
jadi kesimpulan personal yang bisa aku ambil, manga ini tentang cerita yang pelan tentang seseorang yang sedang menyesuaikan diri dengan sesuatu yang tidak ia pilih.
Kalau kamu masuk dengan ekspektasi komedi naga-nagaan, mungkin kamu akan kebingungan di awal.
Tapi kalau kamu kasih sedikit ruang untuk ceritanya bernapas, Ruri Dragon punya sesuatu yang cukup genuine untuk ditawarkan.