Dalam setiap literasi—dari novel epik hingga film superhero—kita selalu terpesona dengan narasi pengorbanan diri. Karakter yang rela mati demi keselamatan umat manusia digambarkan mulia, heroik, tanpa cela.
Kita terharu saat membaca tokoh yang memilih mengorbankan nyawanya untuk jutaan orang yang bahkan tak dikenalnya.
Tapi mari kita jujur pada diri sendiri.
Di dunia nyata, kita mungkin dengan bangga berkata, "Ya, aku rela mati untuk menyelamatkan kemanusiaan!" Namun ketika diminta berbagi ruang tunggu dengan seseorang yang keras suaranya, atau satu meja dengan orang yang cara makannya menjijikkan—tiba-tiba idealisme itu menguap.
Kita ingin menyelamatkan manusia secara abstrak, tapi membenci individu-individu konkret yang menyusunnya.
Ini bukan kemunafikan murni.
Karena mencintai "kemanusiaan" itu mudah—ia konsep, ideal, tanpa bau badan atau kebiasaan mengganggu.
Sementara mencintai manusia itu kerja keras setiap hari: dengan segala kekurangannya, keegoisan mereka, bahkan kebencian yang mereka timbulkan dalam diri kita.
di sinilah letak keajaiban kita sebagai spesies.
Bahwa meski kita membenci cara seseorang bicara, tertawa, atau bahkan bernapas—ada bagian dalam diri kita yang tetap memilih untuk peduli. Bahwa di balik segala iritasi dan kebencian kecil itu, tersimpan kapasitas untuk empati yang lebih besar.
Jadi ya, mungkin kamu membenci individu itu. Mungkin kehadirannya membuatmu geram. Tapi dalam situasi kritis, saat harus memilih—kamu tahu kamu akan tetap mengulurkan tangan.