Goodbye, Eri

19 Juli, 2026 ยท 2-3 menit

One shot tentang bagaimana kita memilih mengingat sesuatu

Premisnya : seorang anak bernama Yuta merekam hari-hari terakhir ibunya yang sakit, lalu mengubahnya jadi film.

Fujimoto memanfaatkan medium manga itu sendiri sebagai bagian dari narasi โ€” pembaca sadar sedang membaca "film" yang direkam tokohnya, lengkap dengan sudut kamera, jeda, dan momen yang terasa mentah.

Ini menciptakan lapisan makna: kita menonton seseorang menonton dirinya sendiri bercerita.

Soal tata panel, Fujimoto sering memakai panel besar tanpa dialog untuk momen emosional, memberi ruang hening yang memaksa pembaca berhenti sejenak โ€” teknik yang lebih terasa seperti sinematografi dibanding storytelling manga konvensional.

Transisi antar-panel juga dipakai untuk memutus waktu secara tiba-tiba, meniru cara film di-cut, sehingga pembaca ikut merasakan disorientasi dan emosi tokoh utama tanpa perlu dijelaskan lewat kata-kata.

Kontras antara panel-panel "adegan film" yang rapi dan panel "kenyataan" yang lebih kasar dan nggak stabil juga jadi cara visual untuk menandai kapan realitas dan kapan fiksi.

Pembaca diajak curiga sekaligus percaya pada apa yang dilihat โ€” persis tema besar yang diangkat cerita ini soal batas antara realitas dan fiksi.

Di akhir, Goodbye, Eri nggak punya jawaban pasti soal mana yang "benar-benar terjadi".

Dia lebih tentang bagaimana proses menceritakan ulang sesuatu yang menyakitkan bisa jadi cara untuk berdamai.