Gimana misal kalian jadi orang terakhir yang hidup di bumi? nggak paham konsep dasar seperti makam, musik, peradaban, tuhan, atau perang? Premis ini jadi dasar dari manga Girl's Last Tour — sebuah manga yang berfokus menceritakan perjalanan Chito dan Yuuri, dua anak perempuan yang hidup di dunia paska-kiamat.
Sebelum lanjut, aku mau kasih tahu kalau series manga ini punya total 6 volume, dan 4 volumenya sudah diadaptasi jadi anime. Misal kalian sudah nonton animenya, kalian bisa lanjut baca volume 5 terus volume 6.
Alur ceritanya sederhana: hanya mengisahkan bagaimana mereka berdua melintasi kota bertingkat raksasa yang strukturnya menyerupai labirin beton tanpa ujung.
Dunia dalam manga ini digambarkan sebagai peradaban maju yang telah lama berhenti berfungsi. Chito dan Yuuri bergerak menggunakan kendaraan unik bernama Kettenkrad, melewati pabrik-pabrik tua, perpustakaan yang berdebu, hingga sisa-sisa instalasi militer.
Keunikan manga ini terletak pada bagaimana hal-hal sepele yang kita anggap biasa—seperti sepotong roti, air hangat, atau melihat cahaya lampu yang menyala—menjadi momen yang sangat istimewa dan penuh syukur bagi mereka.
Dinamika karakter antara Chito dan Yuuri menjadi jangkar emosional sepanjang cerita. Chito yang gemar mencatat sejarah dalam buku hariannya mewakili keinginan manusia untuk mengingat dan memahami masa lalu.
Sementara itu, Yuuri yang hidup berdasarkan insting dan "menikmati saat ini" mewakili keteguhan untuk tetap bahagia meski masa depan terlihat tidak pasti. Perbedaan pandangan ini sering kali menghasilkan dialog reflektif.
Secara visual, manga ini menggunakan gaya gambar yang khas dengan garis-garis yang agak "kasar" namun sangat ekspresif. Penggambaran latar belakang arsitektur kota yang megah namun rusak memberikan perasaan melankolis yang kuat.
Kamu akan merasakan sensasi solitude atau kesendirian yang damai, di mana dunia terasa sangat sunyi namun tidak terasa menakutkan karena kedua gadis ini selalu bersama-sama.
Secara keseluruhan, manga ini tidak mengejar jawaban atas pertanyaan "kenapa dunia hancur," melainkan lebih kepada "bagaimana kita menjalani hidup di dunia yang sudah hancur."