Frankenstein; or, the modern prometheus

12 September, 2026 · 3-4 menit

Ada sedikit kemungkinan kalian belum pernah dengar tentang Frankenstein, meskipun mungkin kalian cuma tahu sekilas bahwa ini cerita tentang orang yang menciptakan mayat hidup.

Novel ini sudah masuk domain publik, jadi teks lengkapnya bisa diunduh gratis dan legal lewat Project Gutenberg (gutenberg.org, cari "Frankenstein Mary Shelley").

Novel ini sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar kisah horor.

Ditulis pada era Romantisisme dan Gothic fiction oleh Mary Shelley yang saat itu baru berusia 18-19 tahun, novel ini mengangkat tema besar soal tanggung jawab pencipta terhadap ciptaannya.

Berbeda dari kebanyakan adaptasi filmnya, masalah utama dalam novel bukanlah bahwa makhluk ciptaan Victor itu jahat sejak lahir.

Justru sebaliknya, Victor langsung meninggalkan ciptaannya sendirian begitu proses penciptaan selesai, tanpa bimbingan maupun penerimaan.

Makhluk itu kemudian belajar bahasa dan nilai moral secara mandiri, dan awalnya memiliki niat baik.

Ia berubah menjadi destruktif justru setelah berulang kali ditolak dan diserang manusia hanya karena rupanya yang menyeramkan.

Tema lain yang mengikat keseluruhan cerita adalah isolasi.

Baik Victor, si makhluk, maupun Kapten Walton yang menjadi narator pembuka kisah, sama-sama menderita karena kesepian — baik yang mereka pilih sendiri maupun yang dipaksakan oleh lingkungan.

Pada akhirnya, pencipta dan ciptaannya sama-sama terjebak dalam lingkaran kebencian yang destruktif.

Keduanya sama-sama berakhir dalam keadaan hancur: yang satu mati karena obsesi dan kesombongannya sendiri, sedangkan yang lain mati karena keterasingan dan keputusasaan akibat terus-menerus diabaikan.

Cerita ditutup dengan berakhirnya lingkaran kebencian antara sang pencipta dan yang diciptakan.

Si makhluk menyatakan akan pergi ke ujung utara es Arktik untuk membakar dirinya sendiri, karena ia percaya satu-satunya cara untuk mendapatkan kedamaian dan mengakhiri penderitaannya hanyalah melalui kematian.