Ketika seekor primata muda mendekati kematangan seksual, sesuatu mendorongnya untuk menjauh dari kawanan tempat ia lahir.
Sagan menjelaskan bahwa dorongan ini adalah penjaga keberlangsungan spesies.
Bayangkan sebuah kawanan yang tidak pernah menerima anggota baru dan tidak pernah melepas anggota lamanya.
Kawin silang terjadi terus-menerus di antara individu yang berbagi terlalu banyak gen yang sama.
Perkawinan sedarah — membuat sifat-sifat genetik yang tersembunyi dan berbahaya muncul ke permukaan, karena dua salinan gen rusak pada masing-masing individu akhirnya bertemu dalam satu keturunan.
Hasilnya adalah tubuh yang lebih rentan terhadap penyakit, sistem imun yang lemah, dan kemampuan bertahan yang menurun dari generasi ke generasi.
Dengan menjauh dan bergabung ke kawanan lain, primata muda membawa variasi genetik yang segar.
Yang menarik adalah pertanyaan apakah manusia, dengan segala kompleksitas budayanya, masih membawa warisan biologis yang sama.
Jawabannya tampaknya: ya. Pemberontakan remaja manusia kemungkinan besar memiliki akar evolusioner yang serupa.
Efek Westermarck memperkuat gagasan ini: individu yang dibesarkan dalam kedekatan fisik sejak kecil secara otomatis kehilangan ketertarikan seksual satu sama lain, bahkan tanpa ikatan darah.