Butuh waktu sekitar dua minggu buat namatin baca Confessions dari Minato Kanae dan mungkin akan lebih lama misal nggak berusaha beradaptasi dengan gaya penceritaannya.
Untuk konteks awal, misal kalian nggak pernah denger novel ini, ceritanya tentang tragedi matinya anak seorang guru SMP. Simplenya sih gitu.
Novel ini dibagi menjadi enam bab—Orang Suci, Martir, Pencinta, Pencari Kebenaran, Pemuja, dan Penginjil—yang masing-masing disampaikan melalui sudut pandang tokoh yang berbeda. Setiap bab berfungsi sebagai bentuk pengakuan dosa, di mana tokoh menceritakan versinya sendiri atas peristiwa yang sama (dalam hal ini matinya anak seorang guru SMP).
Bab pertama disampaikan melalui monolog panjang Moriguchi, seorang guru SMP. Gaya penceritaannya menyerupai pidato satu arah yang menjadi fondasi bagi keseluruhan cerita.
Ia berdiri di depan kelas untuk terakhir kalinya sebelum mengundurkan diri, mengungkap bahwa kematian putrinya bukanlah kecelakaan, melainkan pembunuhan yang dilakukan oleh dua murid di kelas tersebut.
Bab-bab berikutnya awalnya tampak terpisah dan tidak saling terkait, tapi seperti yang kubilang sebelumnya, narasi novel ini memang begini.
Seiring bergantinya sudut pandang dan perbedaan rasionalisasi moral, para tokoh tidak sekadar mengakui perbuatan mereka. Mereka juga mencoba membenarkan tindakan mereka melalui perspektif masing-masing.
Mizuki Kitahara, ketua kelas yang berpikiran logis, menarasikan dampak pengakuan Moriguchi terhadap kelas dalam bab kedua yang berjudul "Martir". Ia mengamati dua pelaku dengan cermat, sembari mengungkapkan ketidaksukaannya pada wali kelas baru yang dipanggil Werther.
Perpindahan perspektif kemudian membawa kita ke dalam buku harian ibu Naoki Shitamura, salah satu pelaku pembunuhan. Bab "Pencinta" ini menunjukkan penyangkalan seorang ibu, ketakutan, dan rasa sayang yang salah kaprah kepada anaknya yang perlahan menjadi hikikomori akibat ketakutan setelah kejadian tersebut.
Naoki sendiri kemudian berbicara dalam bab "Pencari Kebenaran", mengungkapkan perasaannya secara batin—kepanikan, penurunan mental, obsesinya pada kebersihan, dan rasa bersalah menjadi kaki tangan Shūya dalam pembunuhan tersebut.
Bab kelima, "Pemuja", ditulis dari sudut pandang Shūya Watanabe, pelaku utama yang merupakan seorang jenius manipulatif. Ia menceritakan obsesinya terhadap ibunya, alasannya melakukan pembunuhan untuk mencari perhatian, dan rencana jahatnya selanjutnya.
Barulah di bab terakhir, "Penginjil", perspektif Moriguchi kembali menutup cerita dengan mengungkapkan hasil akhir dari rencana balas dendamnya yang psikologis terhadap Shūya, menunjukkan bahwa "pelajaran" sesungguhnya baru saja dimulai.
Salah satu tema sentral yang kuat dalam novel ini adalah pola asuh serta relasi orang tua dan anak. Minato Kanae secara kritis menyoroti bagaimana kasih sayang yang berlebihan, ekspektasi yang tidak realistis, dan kegagalan komunikasi dapat menciptakan tekanan psikologis yang mendalam.
Puncak novel ditutup dengan akhir cerita yang mengejutkan dan sarat ironi, memperkuat kesan bahwa kejahatan nggak selalu berujung pada keadilan.
Secara keseluruhan, sangat kusarankan kalian baca Confessions karena novel thriller psikologis ini menawarkan eksplorasi karakter yang kompleks melalui struktur naratif yang tidak konvensional.