"film romance anime yang bagus," kamu mungkin melewatkan inti dari filmnya
Wajar, sih. Secara permukaan, ada dua karakter utama — Shoya dan Shoko — yang sejarahnya kelam, lalu perlahan saling mendekati.
Otak kita otomatis membacanya sebagai kisah cinta. Tapi kalau kamu perhatiin, hubungan mereka bukan jantung ceritanya.
Shoya, si tokoh utama, pernah jadi pelaku bullying terhadap Shoko — teman sekelasnya yang tuli — waktu SD. Bertahun-tahun kemudian, dia sudah dewasa dan menanggung rasa bersalah itu sendirian.
Dia mengisolasi diri, susah menatap mata orang lain (digambarkan dengan tanda silang di wajah orang-orang di sekelilingnya), dan di awal film, dia sudah punya rencana mengakhiri hidupnya.
Pencariannya terhadap Shoko bagian dari usahanya untuk membereskan sesuatu yang sudah lama.
dia harus berhadapan dengan versi dirinya yang dulu, dengan orang-orang dari masa lalunya, dan dengan pertanyaan apakah dia layak untuk dimaafkan.
Shoko sendiri punya pergumulan serupa. Dia tumbuh merasa jadi beban buat orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarganya sendiri.
Pertemuan mereka berdua lebih ke dua orang yang sama-sama belajar bahwa mereka berhak untuk tetap ada.
Film ini bicara tentang rasa malu yang dibawa bertahun-tahun, tentang betapa sulitnya meminta maaf yang benar-benar tulus, tentang orang yang merasa tidak layak dicintai — termasuk oleh dirinya sendiri.
A Silent Voice bagus karena menggambarkan betapa beratnya berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu — dan betapa mungkinnya itu untuk dilakukan.